Buntut Cekcok Anak, Orang Tua Aniaya Siswa SD di Sungai Penuh

admiin
26 Mei 2025 16:59
Daerah HUKUM 0 193
2 menit membaca

PerKlik.com – Dunia pendidikan Sungai Penuh kembali tercoreng. Seorang siswa sekolah dasar diduga menjadi korban kekerasan fisik yang dilakukan oleh orang tua murid lain. Insiden ini, berawal dari perselisihan kecil antar anak, kini memicu keprihatinan luas dan desakan agar pelaku ditindak tegas.

Peristiwa pilu ini bermula dari adu mulut dua siswa di lingkungan sekolah. Salah satu anak, yang disebut-sebut cucu pemilik rumah makan terkenal di kota itu, melontarkan hinaan “orang miskin” kepada temannya. Merasa direndahkan, korban memeluk anak pelaku secara spontan, menyebabkan anak pelaku terjatuh dan luka ringan.

Namun, yang seharusnya menjadi urusan anak-anak, justru berujung pada tindakan main hakim sendiri. Nenek dari anak pelaku, tanpa izin sekolah, langsung mendatangi lokasi. Korban diseret keluar area sekolah dan dicubit berulang kali dalam perjalanan. Puncaknya, setibanya di rumah pelaku, ayah dari anak tersebut – yang juga pemilik rumah makan ternama – diduga ikut memukul pipi kanan korban. Akibatnya, korban tak hanya menderita luka fisik, tapi juga trauma mendalam.
Keluarga korban telah melaporkan insiden ini ke polisi dan Dinas Perlindungan Anak Kota Sungai Penuh. Kasus ini sedang dalam penyelidikan.
Pihak sekolah enggan berkomentar, namun para guru dan wali murid menyatakan kekecewaan.

Mereka menilai tindakan kekerasan oleh orang tua di lingkungan sekolah adalah pelanggaran serius terhadap prinsip pendidikan. “Ini bukan cuma soal anak-anak. Ini tentang bagaimana orang dewasa harusnya memberi contoh menyelesaikan konflik dengan bijak,” ujar seorang guru.

Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Wilayah Jambi mengecam keras tindakan ini. “Kami mendesak agar pelaku kekerasan diproses hukum. Ini penting untuk melindungi anak-anak dan memastikan sekolah tetap jadi ruang aman,” tegas perwakilan LPAI Jambi.

Kasus ini menjadi pengingat pahit: kekerasan, apalagi terhadap anak, tak punya tempat di masyarakat beradab. Sekolah seharusnya menjadi tempat tumbuh, bukan tempat takut.(Tim)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    blank