
PerKlik.com — Permasalahan sampah yang semakin mengkhawatirkan di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, mendapat sorotan tajam dari anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Rocky Chandra. Dalam pernyataannya pada Jumat (16/5/2025), Rocky mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk turun langsung meninjau kondisi lapangan dan mengambil langkah konkret mengatasi permasalahan yang dinilai telah mencoreng citra kawasan yang dikenal sebagai ‘Sekepal Tanah dari Surga’.
“Kerinci dan Sungai Penuh ini dulu terkenal dengan keindahan alamnya, udara yang sejuk, dan lanskap pegunungan yang memukau. Tapi sekarang, keindahan itu mulai pudar karena persoalan sampah yang tak kunjung terselesaikan,” ujar Rocky, mengungkapkan keprihatinannya atas penurunan kualitas lingkungan di daerah tersebut.
Menurut Rocky, persoalan utama yang menyebabkan penanganan sampah di dua wilayah tersebut tak kunjung tuntas adalah keterbatasan anggaran daerah. Pemerintah Kabupaten Kerinci dan Pemerintah Kota Sungai Penuh disebutnya memiliki kapasitas fiskal yang kecil, sehingga tidak mampu menyediakan sistem pengelolaan sampah yang memadai, termasuk infrastruktur dasar seperti Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang layak.
“APBD mereka sangat kecil, tidak sanggup menopang penanganan sampah yang memadai. Karena itu, saya mohon perhatian dari pemerintah pusat, baik melalui dana negara maupun dukungan dari CSR perusahaan-perusahaan,” kata Rocky, seraya menyebut bahwa ketimpangan fiskal ini memerlukan intervensi langsung dari pusat.
Sebagai bentuk keseriusannya, Rocky telah menyerahkan proposal pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) untuk wilayah Kerinci dan Sungai Penuh kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hanif Faisol Nurofiq. Proposal tersebut diserahkan dalam sebuah rapat resmi yang mempertemukan pihak legislatif dan kementerian.
“Kalau kita biarkan, bukan hanya sektor pariwisata yang hancur karena citra buruk, tapi juga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat akan ikut terdampak. Sampah yang menumpuk tidak hanya merusak estetika lingkungan, tetapi juga menjadi sumber penyakit,” tegasnya.
Rocky juga menekankan pentingnya kunjungan langsung dari pihak kementerian, agar tidak hanya mengandalkan laporan atau data statistik semata. Menurutnya, pemahaman menyeluruh atas krisis sampah hanya bisa diperoleh dengan menyaksikan langsung bagaimana limbah rumah tangga dan sampah perkotaan telah mengepung kawasan pemukiman dan bahkan mencemari aliran sungai yang menjadi sumber air masyarakat.
“Masalah ini bukan hanya soal tumpukan sampah, tapi juga soal bagaimana negara hadir untuk menjamin hak masyarakat atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat,” ujar Rocky.
Desakan ini datang di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu lingkungan, terutama di daerah-daerah yang selama ini mengandalkan sektor pariwisata berbasis alam. Kerinci dan Sungai Penuh, yang terletak di kawasan dataran tinggi Jambi, dikenal luas sebagai salah satu destinasi favorit wisatawan lokal dan mancanegara berkat keberadaan Taman Nasional Kerinci Seblat dan Danau Kerinci yang ikonik.
Namun kini, wajah elok Kerinci mulai tercemar oleh tumpukan sampah yang tidak tertangani, baik di kawasan pemukiman, pasar tradisional, maupun area wisata. Kondisi ini dikhawatirkan akan menggerus daya tarik wisata, yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat setempat.
Dengan proposal yang sudah diserahkan dan tekanan politik yang mulai menguat, publik kini menanti aksi nyata dari KLHK dan instansi terkait. Rocky berharap, tindak lanjut atas usulannya bisa segera direalisasikan dalam bentuk dukungan anggaran, pembangunan infrastruktur TPA, serta program pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah.
“Ini momentum bagi pemerintah untuk menunjukkan bahwa kepedulian terhadap daerah-daerah kecil tidak kalah penting dibanding kota-kota besar. Kita butuh kehadiran negara, bukan hanya dalam janji, tapi dalam tindakan nyata,” pungkasnya.(Tim)
Tidak ada komentar