
PerKlik.com – Kerinci, Di tengah gempuran zaman digital dan menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian, sosok Qori Nabila, seorang mahasiswi Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jambi, justru hadir membawa harapan. Berbekal ilmu dan pengalaman dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka Desa Laboratorium Terpadu tahun 2023, Qori mengembangkan model pertanian ramah lingkungan berbasis pemanfaatan sumber daya alam lokal.
Kepada tim PerKlik.com, Qori mengungkapkan bahwa kegiatan pertanian yang ia tekuni saat ini merupakan kelanjutan dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang ia ikuti di Desa Jujun, Kerinci.
“Kegiatan pertanian ini saya mulai setelah program Merdeka Belajar Kampus Merdeka selesai akhir 2023. Semua media tanam dan pupuk berasal dari alam, mulai dari kompos, limbah organik, hingga media tanam dari paralon bekas dan bambu. Untuk nutrisi tanaman, kami belum bisa distribusikan karena masih menunggu izin resmi,” jelasnya.
Di lahan sederhana milik keluarga, Qori menanam berbagai jenis sayuran seperti pakcoy, sawi, selada merah, dan seledri. Yang membuat metode pertaniannya berbeda adalah pendekatan ramah lingkungan yang ia terapkan sejak awal meminimalisir limbah, menggunakan kembali bahan tak terpakai, dan menjadikan pertanian sebagai solusi ekologis, bukan justru beban lingkungan.
“Awalnya kami kaget, kok bisa tanaman tumbuh di pipa paralon bekas dan bambu. Tapi setelah dijelaskan, kami jadi paham. Hasil panennya pun bagus, kami bahkan ikut panen dan makan bersama.”
Tak hanya bertani, Qori juga mulai merintis usaha mikro bersama orang tuanya. Ia dan keluarganya mengumpulkan hasil panen kopi dari petani lokal untuk diolah menjadi bubuk kopi. Proses pembubukan masih menggunakan jasa pihak ketiga karena keterbatasan alat, namun hasilnya sudah cukup menjanjikan.
“Kopi kami belum punya merek, tapi sudah mulai diminati, bahkan sampai ke luar daerah Kerinci dan Sungai Penuh. Uniknya, limbah kopi saya olah lagi jadi pupuk atau nutrisi tanaman. Jadi tak ada yang terbuang,” ungkap Qori.
Meski penuh potensi, perjuangan Qori masih berjalan sendiri. Ia mengaku belum ada dukungan nyata dari pemerintah desa, kabupaten, maupun pihak swasta.
“Saya tidak mencari sorotan, hanya sedang membangun fondasi dari ilmu yang saya dapat. Harapan saya, ini bisa jadi bukti bahwa ilmu itu bisa hidup, terutama bila dipadukan dengan kekayaan alam dan semangat manusia,” tutupnya.
Kisah Qori Nabila adalah gambaran nyata bahwa transformasi pertanian bisa dimulai dari desa, dari pekarangan rumah, bahkan dari seorang mahasiswa. Tapi membangun kedaulatan pangan tidak bisa diserahkan pada individu semata. Jika satu Qori bisa bergerak sejauh ini seorang diri, bayangkan jika seribu Qori lainnya diberi akses, ruang, pendampingan, dan kepercayaan.
Pertanian Indonesia tak hanya bisa bertahan, tapi akan tumbuh, berdaulat, dan memimpin peradaban baru yang selaras dengan alam. (glg)
Tidak ada komentar